Loading...

Monday, November 30, 2009

SEMANGAT QURBAN DAN MUTU SDM

Tiap hari raya Idul Adha tiba pasti sebagian besar umat Islam akan mengenang figur Nabi Ismail dan Nabi Ibrahim sebagai suri tauladan akan ketaatannya kepada Allah swt.. Hal itu kemudian dikenal sebagai ritual Idul Qurban. Esensinya bukan sekedar ritual belaka dalam bentuk penyembelihan hewan kurban sapi, kerbau, unta, atau kambing. Lebih dari itu, yakni mengembangkan spirit kehambaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam kehidupan keseharian kita. Simbol dari penyembelihan tersebut sama saja dengan menjauhi sifat-sifat rakus, ego berlebihan, mabuk harta dan kekuasaan, dan berburuk sangka.

Setiap umat Islam sangat dianjurkan memiliki mutu sumberdaya manusia tinggi (iman, takwa, dan amal soleh) yang dicerminkan dengan kesediaanya berkurban dan berbuat ikhsan bagi sesama dan lingkungan. Dalam hal ini Allah berfirman: "Daging-daging (unta) dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik". (al-Hajj: 37).

Namun demikian perlu disadari, Ridha Allah tidak akan sampai pada pemilik daging-daging yang disedekahkan dan darah-darah yang mengalir dari hewan yang dikurbankan kecuali jika dia melandasi amalannya dengan niat ikhlas dan memperhatikan syarat-syarat taqwa saat berkurban. "Sesungguhnya amalan sedekah itu telah sampai kepada Allah sebelum sampai ke tangan penerimanya, dan sungguh (pahala) dari darah (kurban) itu telah sampai kepada Allah sebelum membasahi bumi". (HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi).(sjafri mangkuprawira)

Tuesday, November 17, 2009

PENTINGNYA MODAL SOSIAL DALAM PERUSAHAAN

Untuk menjalankan bisnisnya, perusahaan pasti menggunakan beragam modal. Bisa berbentuk modal finansial, teknologi, modal manusia (sumberdaya manusia), dan modal sumberdaya alam. Dalam prakteknya modal-modal di atas tidak menjamin perusahaan akan meraih keuntungan maksimum. Dengan kata lain setiap investasi belum tentu akan menghasilkan return on investment yang diharapkan. Karena itu masih dibutuhkan bentuk modal lainnya yakni modal sosial. Bentuk modal ini bukan saja berfungsi sebagai aset perusahaan tetapi juga sebagai instrumen sekaligus tujuan dalam pengembangan perusahaan. Dengan demikian agar perusahaan bisa berkembang maka pertanyaannya bagaimana memertahankan dan meningkatkan modal sosial agar semua bentuk modal lainnya memiliki manfaat maksimum.

Modal sosial dalam perusahaan dicirikan oleh adanya interaksi sosial timbal balik diantara karyawan dan manajemen dan antarsesama keduanya. Bentuk interaksi itu didasarkan pada adanya rasa percaya sesama yang mengakar dalam suatu budaya organisasi dan etika sosial. Karena ada rasa percaya maka timbul suatu entitas karyawan (manajemen dan non-manajemen) yang memiliki kebersamaan tentang nilai-nilai kejujuran, kedisiplinan, kebersamaan, dan pentingnya kerja keras-cerdas. Karyawan menunjukkan kesediaan individunya untuk mengutamakan keputusan entitas perusahaan. Pertanyaannya apakah setiap perusahaan otomatis memiliki cirri-ciri modal sosial seperti itu?

Terbentuknya modal sosial sangat bergantung pada mutu sumberdaya manusia para karyawannya. Dalam prakteknya bisa jadi mutu mereka berbeda-beda. Baik dilihat dari segi budaya, latar belakang sosial ekonomi keluarga, pendidikan, ketrampilan, kecerdasan (intelektual,emosional, dan spiritual), kepemimpinan, dan pengalaman kerja. Karena modal sosial berperan sebagai unsur perekat para karyawan dalam melaksanakan visi dan misi organisasi untuk mencapai tujuan organisasi maka dibutuhkan sumberdaya manusia yang bermutu.

Mutu SDM sangat penting untuk mengembangkan modal sosial perusahaan. Setiap karyawan harus memahami bahwa modal sosial merupakan suatu komitmen dari setiap individu untuk saling terbuka, saling percaya, dan bertanggungjawab. Selain itu dengan semakin meningkatnya mutu SDM diharapkan akan semakin terbentuknya rasa kebersamaan, kesetiakawanan, dan sekaligus tanggungjawab akan kemajuan bersama. Karena itu setiap perusahaan seharusnya terdorong untuk membangun dirinya sebagai organisasi belajar. Yakni suatu organisasi di mana para anggota dari suatu organisasi secara terus menerus memperluas kemampuannya untuk berkeinginan belajar dan mengembangkan potensi dirinya. Dalam hal ini pemimpin perusahaan memegang peranan penting dalam mengembangkan modal sosial di perusahaannya.

Kepemimpinan trasformasional, demokratis, dan kepemimpinan partisipatif di kalangan manajemen khususnya manajemen puncak cenderung akan mampu menstimulus para karyawan dalam memercepat struktur modal sosial dalam bentuk pengembangan visi bersama. Selain itu kepemimpinan seperti itu berpengaruh pada terbentuknya saling percaya di kalangan karyawan. Dengan demikian hubungan harmonis di antara karyawan menjadi modal sosial yang sangat penting dalam membangun tim kerja yang efektif. Pada gilirannya modal manusia yang bermutu dan modal sosial yang utuh akan mampu meningkatkan kinerja karyawan dan perusahaan. (sjafri mangkuprawira)

PENTINGNYA PERUBAHAN STRATEJIK : INVESTASI

Perubahan stratejik adalah salah satu kegiatan yang secara langsung berkaitan dengan tujuan organisasi bisnis. Ini merupakan tanggung jawab manajemen senior yang bertugas merencanakan sumberdaya, mengkomunikasikannya dan secara langsung mengelola proses. Misalnya bagaimana perusahaan harus melaksanakan perubahan fungsinya yaitu dengan berorientasi lebih pada usaha komersial. Disini pihak manajemen harus mengimplementasikan perubahan strategik dengan fokus ganda. Yang pertama memaksimumkan pendapatannya dari usaha komersialnya dan kedua aktif mengembangkan tanggung jawab sosial perusahaan

Faktor pendorong terjadinya perubahan strategik baik di sektor swasta maupun pemerintah (publik) adalah pertimbangan ekonomi. Di sektor swasta, pemegang saham akan membeli saham dengan pertimbangan berapa pendapatan yang akan diperolehnya. Sementara para pelanggan (pasar) ,dengan daya belinya, mereka memilih untuk membeli sesuatu. Secara efek ganda diharapkan upaya ini akan memengaruhi peningkatan kebutuhan sumberdaya manusia karena turunan dari permintaan pasar akan produknya.

Tugas manajemen adalah menstimuli kondisi agar setiap produk yang dihasilkan memiliki syarat-syarat sesuai dengan kebutuhan/kepuasan pelanggan. Untuk itu mutu sumberdaya manusia karyawan benar-benar harus disiapkan dengan baik. Selain itu juga mampu mengendalikan biaya produksi untuk menjamin agar harapan para pemegang saham terpenuhi. Tidak dapat dielakkan bahwa perubahan pasti terjadi di berbagai segi kehidupan ekonomi. Produk apapun dan bagaimanapun tingkat efisiensinya, suatu ketika teknologi produksi yang dipakai akan ketinggalan zaman. Kemudian diganti dengan generasi terbaru teknologi yang semakin efisien. Namun demikian semua itu memerlukan investasi baru yang modalnya diperoleh dari pemegang saham.

Pasar, tidak masalah bagaimana kondisinya, akan berubah sejalan dengan perubahan selera pelanggan. Misalnya, air mineral alami yang dahulu tidak termasuk katagori barang ekonomi dan tidak dipasarkan, sudah beberapa tahun lalu diproduksikan secara masal dan sudah mendunia. Namun tidak dapat dielakkan biaya produksi tersebut di negara-negara maju sangat tinggi. Tidak mudah menekan biaya. Karena itu kebanyakan perusahaan di negara-negara tersebut tidak menginvestasikan di negaranya tetapi di luar. Pertimbangannya karena biaya tenaga kerja dan biaya operasinya lebih murah. (sjafri mangkuprawira)

Wednesday, November 11, 2009

Jika Tuhan Menjatuhkan Batu

Seorang pekerja pada proyek bangunan memanjat ke atas tembok yang sangat tinggi. Pada suatu saat dia harus menyampaikan pesan penting pada seseorang yang ada di bawah. Pekerja itu berteriak-teriak, tetapi temannya tidak bisa mendengarnya karena di bawah begitu bising dengan hiruk- pikuknya suara mesin dan orang-orang yang bekerja, sehingga usahanya sia-sia saja. Oleh karena itu untuk menarik perhatian orang di bawahnya, ia mencoba melemparkan uang logam di depan orang itu. Orang itu berehenti sebentar, mengambil uangitu keudian bekerja lagi. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yang sama.

Tetapi tiba-tiba ia mendapat ide. Ia mengabil batu kecil dan melemparkannya ke arah orang itu, dan. Karena merasa kesakitan, orang itu menengadah keatas. Sekarang pekerja yang di atas dapat menjatuhkan catatan yang berisi pesannya.

Tuhan kadang-kadang menggunakan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan untuk membuat kita menengadah kepadanNya. Seringkali Tuhan memberi berkat, tetapi itu tidak cukup untuk membuat kita menengadah kepadaNya. Karena itu memang lebih tepat kalau Tuhan menjatuhkan batu kepada kita. (dari temanku; David Panjaitan)

"Peringatan-peringatanMu adalah milik pusakaku untuk selama-lamanya, sebab semuanya itu kegirangan hatiku"

Tuesday, November 10, 2009

Tuan, Tolooooooong

Terkait dengan hinggar bingarnya fenomena korupsi akhir-akhir ini, saya mengutip artikel humor yang dimuat di situs Ketawa.Com (modifikasi dari Teguh Setya Nugraha, 28 Sep. 2006). Inti pembelajaran dari tulisan itu, proses penegakan hukum khususnya dalam hal pemberantasan korupsi bukanlah barang mudah. Perlu keberanian dan ketegasan dari aparatnya secara taat asas. Namun dalam kenyataan, hasilnya masih belum memuaskan. Berikut ceritanya.

Seorang pengusaha yang menghabiskan akhir pekannya dengan memancing di sebuah danau, menemukan sebuah botol yang terapung dan tertutup rapi yang segera dihampiri dan diambil oleh sang pengusaha. Penasaran…, si pengusaha membuka tutup botol, lalu tiba-tiba dari dalam botol keluar asap yang selanjutnya menebal dan menjadi Jin raksasa yang mengambang di depan si pengusaha. "Terimakasih tuan; Tuan telah membebaskan saya, untuk ini tuan disilakan meminta tiga permintaan, saya akan mengabulkannya" kata Jin, seperti format biasa tanda terimakasih Jin yang dibebaskan oleh manusia.

Setelah kagetnya reda, si pengusaha itu terdiam sejenak lalu dia berkata, "Baiklah Jin, saya ingin tahun ini ada tiga perubahan besar terjadi di negeri saya Indonesia ini: pertama, saya ingin nilai tukar rupiah di negeri saya ini kembali menjadi Rp. 8.500 per 1 dollar US; kedua, saya mau semua uang hasil korupsi baik oleh swasta ataupun pejabat pemerintah dikembalikan kepada rakyat dan semua pelakunya dipenjarakan. Ketiga, saya ingin hukum benar-benar bisa ditegakkan di negeri saya ini."

Sang Jin berpikir sejenak kemudian, menggeleng-gelengkan kepala. Pelan-pelan jasadnya kembali menjadi asap lalu berkumpul masuk kedalam botol itu kembali. Dari dalam botol si Jin berseru:
"Tuan, tolooong botolnya ditutup kembali…!!!!!."

BENCI DAN KERUSUHAN

Siapa diantara kita tak pernah punya rasa benci kepada orang lain? Sifat benci atau tak suka pada orang lain sepertinya merupakan fenomena alami. Itu dapat terjadi pada siapa pun, dimana pun dan kapan pun. Yang beda cuma derajatnya. Beberapa contoh bentuk penyebab kebencian individu pada orang lain antara lain karena ditipu atau dihianati, benci karena diputus cinta, benci karena dimarahi, benci karena diberlakukan tidak adil, benci kepada musuh bebuyutan, benci karena tidak diberi perhatian, benci karena teraniaya, dsb. Kalau sifat benci dibiarkan bahkan dipelihara, maka secara potensial akan lahir sifat dendam. Kecuali… benci tapi rindu.

Kerusuhan antaragolongan masyarakat, sebagai konflik sosial, yang terjadi selama ini sering diawali oleh suatu kebencian. Mulanya timbul dari kebencian individual,misalnya bentrokan individu dan perebutan aset lahan. Lalu berkembang menjadi solidaritas kebencian dan akhirnya menuai kebencian massal. Kebencian massal terhadap penguasa yang tidak adil; terhadap pengusaha yang zolim; terhadap kelompok suku, ras bahkan agama tertentu; dan terhadap pengikut golongan atau partai politik tertentu,dan bahkan hanya karena pertengkaran antarapemuda beda kampung adalah beberapa contoh yang acap menimbulkan kerusahan yang parah.

Kita tentunya tidak ingin bangsa Indonesia tergolong sebagai masyarakat pembenci sekaligus perusuh sosial. Walau jargon indahnya hidup rukun dan damai sudah kerap diungkapkan tetapi kebencian massal masih sering juga terjadi. Dalam hal ini agama sangat mengingatkan tiap manusia yang beriman untuk tidak bersifat benci. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada benci kepadamu (adh-Dhuhaa; 3). Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus (al-Kautsar; 3). Allah menambahkan dengan firmannya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat (al-Hujuraat; 10).

Salman r.a mengabarkan, Rasulullah bersabda: Apabila orang berpura-pura saling mencintai, padahal sesungguhnya saling membenci dengan hati dan saling memutuskan hubungan kasih sayang, maka Allah mengutuk mereka (HR.Thabrani). Kalau ada yang benci kepada orangtua pun Rasulullah memberi peringatan keras dengan sabdanya: Janganlah kamu membenci bapakmu. Siapa yang membenci bapaknya maka dia kafir (HR.Muslim). Ya Allah ampunilah kami atas kekhilafan kepada orangtua kami. Sayangilah orangtua kami sebagaimana halnya mereka selalu menyayangi kami. Amin. (sjafri mangkuprawira)

Saturday, November 7, 2009

BUKAN SAJA MENDENGAR TETAPI MENDENGARKAN

Pasti setiap orang pernah mendengar dan mendengarkan sesuatu. Apakah itu ketika bertemu singkat dengan seseorang di suatu lokasi, dalam rapat, dalam kuliah, dalam pertemuan keluarga, ketika melihat acara televisi, menyetel radio dsb. Apa yang membedakan keduanya? Mudah saja. Kalau anda serius mendengar sesuatu maka artinya anda mendengarkannya. Dengan kata lain, kalau mendengarkan sifatnya lebih aktif. Secara sadar akal pikiran fokus pada objek yang didengarkan dengan penuh perhatian. Sementara kegiatan mendengar bersifat pasif. Lebih merupakan kepekaan dan aktivitas telinga yang mampu menangkap getaran-getaran gelombang suara di sekitarnya.

Dalam dunia kerja, mengetahui perbedaan kegiatan mendengar dan mendengarkan menjadi penting. Mengapa demikian? Tidak jarang karyawan begitu lambat menerjemahkan arahan dari atasan dalam melaksanakan tugas-tugasnya karena merasa tidak jelas apa yang diarahkannya. Dengan kata lain karyawan tidak mendengarkan. Akibatnya proses pekerjaan tidak berjalan semestinya. Kalau seperti ini bisa disebabkan dua hal. Pertama sang manajer memang tidak jelas dalam menyampaikan arahannya. Namun bisa jadi arahan sebenarnya sudah jelas namun kemampuan karyawan untuk memahaminya rendah. Hal kedua bisa jadi karyawan hanya sebatas mendengar saja, bukan mendengarkan. Karena itu apa yang didengar tidak mampu diolah menjadi sesuatu yang bermakna. Bisa jadi karena ketika arahan berlangsung sebagian dari karyawan mengobrol dengan rekan-rekannya. Atau karena ada kebisingan lingkungan sekitar. Sehingga para karyawan tidak fokus dalam mendengarkan. Yang terjadi kemudian adalah distorsi informasi. Yang pada gilirannya hal itu mengakibatkan munculnya deviasi proses dan hasil pekerjaan.

Distorsi informasi yang terjadi pada karyawan bisa jadi karena manajer tidak memberi peluang kepada bawahan untuk bertanya dan menanggapi arahannya. Padahal bisa saja karyawan tidak sepenuhnya memahami apa yang disampaikan manajer. Karena itu ketika ada kegiatan koordinasi, manajer seharusnya mampu mendorong agar karyawan mau bertanya dan menanggapi setiap arahan. Disini atasan perlu memiliki empati dan punya perasaan sejauh mana bawahannya telah memahami apa yang disampaikannya. Manajer seharusnya memberi kesempatan kepada bawahan untuk melatih diri dalam mendengarkan sesuatu. Mendengarkan sesuatu dengan benar adalah ketrampilan yang membutuhkan proses pembelajaran dan praktek nyata dalam berkomunikasi.

Dalam kasus lain, bagaimana kalau karyawan memiliki masalah tertentu? Apa yang harus dilakukan manajer? Manajer tidak cukup hanya mendengar masalah bawahan dari rekan-rekan kerja karyawannya itu. Dia sebaiknya meminta karyawan tersebut datang menemuinya. Disitu manajer mendengar dan mendengarkan langsung apa yang terjadi pada karyawannya. Dia melakukannya dengan sengaja tanpa harus ada perintah dari manajemen puncak. Secara tulus dia memberi perhatian kepada karyawannya itu. Bahkan diupayakan tidak menunjukkan jarak psikologis antara atasan dan bawahan.

Mendengarkan menjadi unsur pokok dalam menghargai karyawannya. Dengan demikian karyawan tersebut akan secara rinci menceritakan apa masalah yang dihadapinya. Ketika itu terjadi maka layaknya sebagai konselor, sang manajer tidak harus membantah atau mengiakan setiap informasi yang disampaikan karyawan. Dengan sabar dia menunggu sampai karyawan selesai menjelaskan masalah yang satu ke masalah yang lainnya. Pasalnya mendengarkan tidaklah selalu sebagai bentuk penilaian namun lebih pada empati atasan sebagai pendengar yang baik. Dari situlah manajer pada saatnya bisa menawarkan beberapa pilihan kepada karyawannya untuk mengatasi masalah yang terbaik.(sjafri mangkuprawira)